Wednesday, 27 March 2013

"Ikan-Ikan" Yang Berenang Di Aquarium Gang Dolly Surabaya

he..Pak Bro / Bu Bro, klo abis baca klik "Like/Suka" napa...?!
Semalam, Rp 2 M 'Berhamburan'  Gang Dolly Surabaya
Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang becak, PKL, buruh cuci dan lain-lain yang mengais rezeki Komplek lokalisasi terbesar di Asia ini.
Di sana juga terdengar sayup-sayup seorang anak sedang ngaji melantunkan ayat-ayat suci, dan kalimat-kalimat bijak di tengah-tengah majelis pendidikan. Benar-benar kontradiksi dan kompleks banget gitu loh kegiatan di Dolly.

Pihak Pemkot surabaya jelas mikir 1000 kali kalau membuang atau menutup Dolly layaknya Kramat Tunggak di Jakarta dan Saritem di Bandung. Kenapa? penghasilan per hari dari Dolly mencapai Rp 2 miliar lebih atau setara dengan Rp 60 miliar per bulan. Ini bukan HOAX, tapi itulah fakta yang Bhetanews dapatkan dari salah seorang pengelola wisma di Dolly bernama Saka 'Barbara'.
Meski masih dalam bayang-bayang penutupan, namun kehidupan lokalisasi Dolly terus menggeliat. Tak kurang 3 ribu orang pengunjung dalam semalam berduyun-duyun datang membuang hasrat seksualnya ke Dolly. Bahkan, perputaran uang di Gang Dolly mencapai Rp 2 milliar per malam.

Jumlah yang cukup fantastis untuk gang Dolly yang sepanjang kurang lebih 500 meter itu. Satu malam perputaran di Dolly bisa mencapai Rp 2 miliar ke atas. "PKL jual buah dalam satu malam bisa raup Rp 800 ribu. Ada ratusan buruh cuci, satu buruh dapat Rp 150 ribu per hari. Sebesar 90 persen mata pencaharian warga sekitar dari Dolly, mulai pasar tradisional, tukang parkir dan warung kopi serta lainnya," kata Saka pengelola wisma Barbara, New Barbara, Madonna dan Madonna Indah ini.
Belum lagi dengan jasa penyewaan kos-kosan milik warga. Di kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak ini, banyak warga yang menyediakan fasilitas kos-kosan untuk para PSK. "Di sini juga ada rumah yang dibangun dengan 7 kamar dan rata-rata yang ditempati hanya 2 kamar saja. Sisanya memang sengaja untuk kos-kosan," jelasnya.

Kemudian kontribusi pendapatan parkir. Untuk sepeda motor sekali parkir harus membayar uang parkir Rp 5 ribu, sedangkan mobil Rp 10 ribu.

Tarif sewa PSK untuk satu jam nilainya bervariasi ada yang termurah Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, Rp 200 ribu dan Rp 250 ribu. Bedanya, kalau lebih mahal jelas lebih cantik dan pilihan. Mereka PSK yang kelas menengah ke bawah seharga Rp 100 ribu duduk di sofa dan di luar 'akuarium'-etalase kaca. Tapi yang menengah ke atas, berada di dalam aquarium.
"Yang pasti setiap tamu yang datang harus pakai kondom dan dilarang keras gunakan narkoba di dalam kamar. Saya beberapa kali mengusir tamu yang mengajak anak buah untuk nyabu di kamar. Kalau bisa persuasif, saya belum lapor polisi dulu," tuturnya.

Kondisi ramai itu bakal menurun drastis ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Pasalnya, baik gang Dolly maupu Jarak harus tutup total untuk menghormati bulan dimana umat muslim menjalankan ibadah puasa.
Karena ada kesepakatan bersama bulan Ramadhan harus tutup total dan para penghuni lokalisasi harus pulang kampung.

"Kalau bulan Ramadhan, coba anda sendiri lewat gang Dolly pasti rasanya seperti kota mati. Tidak ada aktivitas. Bahkan para pedagang di pasar itu juga merasakan, omzet mereka turun drastis," papar pria yang sudah 13 tahun menggeluti bisnis di Gang Dolly ini.

Disinggung wacana penutupan lokalisasi Dolly, Saka punya trik tersendiri agar bisnisnya itu tetap hidup. Ia mengaku tidak keberatan jika pemerintah melakukan penutupan. Kapanpun lokalisasi ini ditutup, secara pribadi Saka sudah menyatakan siap.
Sedangkan untuk aset berupa 4 Wisma yang dikelolanya itu, Saka berencana akan membuat penginapan (homestay) atau kos-kosan. Sebab, bisnis penginapan masih subur untuk kota Surabaya. "Kalau ditutup saya berencana akan membuat penginapan disini. Toh tinggal memodifikasi saja," pungkas pria yang masuk Surabaya sejak tahun 1982 dan ketika itu masih berusia 13 tahun. Tahun 2000, dirinya baru buka 'bisnis lendir' di Dolly.

Pemprov Jatim menargetkan tahun 2012 ini akan mengentas dan memulangkan sebanyak 701 orang wanita tuna susila (WTS) ke daerah asal. Mereka tersebar di lokalisasi Surabaya (253 WTS), Banyuwangi (103 WTS) dan Tulungagung (345 WTS).

Kabiro Administrasi Kesra Setdaprov Jatim Bawon Adhiyitoni kepada beritajatim.com mengatakan, dari total jumlah WTS sebanyak 7.121 orang se-Jatim yang tersebar di 47 lokalisasi (33 kabupaten/kota), sudah berhasil dipulangkan sebanyak 345 WTS hingga akhir tahun 2011.

"Mereka tersebar di Kabupaten Blitar 224 WTS dan Kota Surabaya 121 WTS. Mereka dapat bantuan modal usaha Rp 3 juta per WTS," katanya.

Menurut dia, untuk lokalisasi di Surabaya, pemprov akan konsentrasi pengentasan WTS di wilayah lokalisasi Dupak Bangunsari, Tambak Asri-Kremil dan Jarak-Dolly. Di samping itu, direncanakan pula pemberian bantuan modal usaha kepada masyarakat di luar WTS dan mucikari yang menggantungkan hidupnya di area lokalisasi. (Joe)