Thursday, November 7, 2013

Sky Burial (Tradisi Pemakaman Di Tibet Yang Sangat Kejam)


Sky Burial (Pemakaman Langit) adalah tradisi pemakaman di Tibet dengan cara mecincang tubuh jenazah dan diumpankan pada sekelompok burung pemakan bangkai. Ini tentu terdengar sangat menyeramkan dan sadis, namun itulah salah satu tradisi kuno penguburan jenazah yang terdapat di dataran tinggi Tibet.

Menurut berbagai pihak, budaya memotong-motong mayat dan memberikan kepada burung di Tibet sudah ada sebelum mereka memeluk Agama Budha Tibet. Hal ini disebabkan karena orang Tibet hidup di bukit-bukit dimana pohon sudah tidak tumbuh lagi. Akibatnya mereka tidak bisa membakar mayat karena sulit mencari kayu.


Pada umumnya bukit-bukit dimana mereka tinggal mempunyai lapiran tanah yang sangat tipis, antara 2 cm sampai 20 cm saja. Setelah lapisan tanah yang tipis tersebut adalah bebatuan yang sangat keras. Dengan tipisnya lapisan tanah dan kerasnya batu, mereka juga sulit untuk menguburkan mayat. Membiarkan mayat membusuk begitu saja bisa berakibat penyakit bagi yang masih hidup.

Seperti yang dilansir Dailymail, Sky Burial atau penguburan langit adalah praktek penguburan di tiga provinsi di Cina, yakni Tibet, Qinghai, dan Mongolia. Mayoritas penduduk Tibet dan sebagian warga Mongol meyakini ajaran Buddhisme Vajrayana. Ajaran ini meyakini adanya transmigrasi roh setelah kematian. Para penganut keyakinan itu tak melihat kebutuhan melestarikan jasad. Dengan demikian, mereka membuang jenazah melalui pemakaman langit. 


Pemakaman ini menggunakan metode tak umum. Tubuh yang telah dicincang dibuang dan dilemparkan pada kerumunan burung nasar yang lapar. Sebelum menjelang upacara, seorang biarawan terpercaya membacakan mantra dan membakar dupa. Kemudian, di puncak gunung, mayat ditelungkupkan dan dipotong-potong dengan baik oleh biarawan tersebut.

Tak lama, burung-burung nasar akan memakan seluruh bagian tubuh mayat itu. Bahkan terkadang bagian tulang juga ditumbuk halus dan dijadikan makanan bagi burung yang lebih kecil, seperti gagak. Bagian tengkorak kepala juga kadang-kadang dibawa pulang untuk dijadikan cangkir minuman.


Puncak gunung tempat berlangsungnya tradisi ini dipercaya sebagai jalan masuk menuju nirwana. Penduduk Tibet yang mayoritas beragama Buddha percaya bahwa tidak ada reinkarnasi setelah meninggal. Oleh karena itu, jasad yang telah meninggal tak ada artinya lagi dan pada akhirnya akan kembali ke alam, baik melalui burung pemakan bangkai ataupun diuraikan di tanah. Dengan demikian, metode ini dipercaya akan lebih mempermudah arwah orang yang meninggal untuk sampai ke nirwana karena telah memberikan kemurahan hati bagi burung pemakan bangkai.

Tradisi ini juga dipengaruhi oleh kondisi geografis Tibet yang berbukit dan berbatu. Sulit menemukan lahan kuburan ataupun kayu bakar untuk kremasi dalam kondisi alam seperti itu. Oleh karena itu, cara pemakaman langit dianggap lebih praktis dibandingkan dengan dikubur ataupun dikremasi. Walaupun pada perkembangannya cara ini mulai ditinggalkan seiring kemajuan teknologi kremasi dan sulitnya metode pemakaman langit itu sendiri. (joe)