Wednesday, February 27, 2013

Performa RIM Semakin Memburuk, Bagaimana Dengan Nasib BlackBerry?

RIM belakangan ini sepertinya terus dilanda dengan berita buruk. Pertama adalah buruknya penjualan perangkat BlackBerry PlayBook yang kemudian sepertinya memaksa RIM untuk memotong harga penjualan BlackBerry PlayBook, strategi yang mirip dengan HP yang beberapa waktu lalu mendiskon besar-besaran HP TouchPad. Kedua adalah turunnya pemasukan bersih RIM yang kemudian disusul dengan jatuhnya harga saham RIM. Ketiga adalah market share RIM yang semakin turun di ranah pasar smartphone, bahkan dikabarkan market share RIM BlackBerry akan berada di posisi satu angka dalam waktu dekat.

Selain berita global tersebut, di Indonesia sendiri hubungan pemerintah dan RIM semakin tidak harmonis, dan bahkan ada wacana untuk memasukkan handphone BlackBerry ke kategori barang mewah sehingga dikenakan pajak yang tinggi.  Hal ini terjadi setelah RIM memutuskan untuk membangun pabrik untuk produksi BlackBerry di Malaysia dan bukan di Indonesia.

Dengan banyaknya berita buruk tentang RIM serta turunnya performa RIM, lalu apa yang akan terjadi dengan BlackBerry? Dari opini saya pribadi, RIM BlackBerry sepertinya akan menyusul nasib Palm dan semakin sedikit yang menggunakan BlackBerry jika tidak ada perubahan, namun begitu tidak dalam waktu dekat. Setidaknya untuk saat ini RIM sedikit tertolong dengan jajaran produk BlackBerry terbaru mereka yang bisa dibilang cukup bagus dan Indonesia saat ini masih menjadi salah satu pelanggan besar mereka.

Mengenai hal ini teman saya berpendapat lain, ia bilang bahwa operator (di Indonesia) menyukai RIM dengan BlackBerry-nya. Dengan jumlah pelanggan BlackBery di Indonesia yang semakin besar (berbanding terbalik dengan apa yang kebanyakan terjadi di negara-negara lain) dan model subkripsi langganan BlackBerry, ini menjadi salah satu ladang uang yang menggiurkan untuk para operator dan tentu juga bagi RIM itu sendiri. Dengan semakin banyaknya pengguna layanan data, operator mau tidak mau harus fokus ke layanan data juga yang katanya sebetulnya pemasukan dari layanan data lebih kecil daripada layanan telepon atau SMS. Oleh karena itu model layanan data BlackBerry lebih menguntungkan untuk para operator daripada layanan data yang umum.

Kerja sama yang erat antara operator handphone di Indonesia dengan RIM mungkin bisa mempertahankan posisi BlackBerry di Indonesia walaupun kabarnya operator kini mulai fokus dengan “ladang” lain selain BlackBerry. Di luar negeri BlackBerry kian tergerus dengan pesaing-pesaingnya, untungnya untuk daerah Eropa karena Samsung Galaxy S 2 (yang berbasis Android) di-ban di daerah tersebut handphone BlackBerry Bold 9900 banyak dilirik oleh konsumen di Eropa.

Dengan semakin buruknya performa RIM dan melemahnya posisi BlackBerry, menarik untuk disimak strategi apa yang akan digunakan RIM untuk mengembalikan BlackBerry ke kejayaannya.